Belajar Marketing dari Tukang Jual Sandal
Acara Legu Gam Expo(ini nggak ada hubungannya ama GAM yang di Aceh lho..) yang merupakan bagian acara peringatan Legu Gam, hari ulang tahun Sultan Ternate yang diperingati setiap tahun, akan selesai besok tanggal 2 Mei. Seperti biasa di lapangan Ngara Lamo, di depan Kesultanan Ternate, malam itu dipenuhi lautan manusia yang sedang nonton grand final pemilihan Jojaru Ngongare (kayak abang none gitu deh…).
Di depan booth Flexi, banyak sekali pedagang yang sedang menggelar jualannya di lapak mereka. Yahh… yang dijual sih barang-barang kelas pasar malam, mulai mainan anak, sandal, minuman, rokok, macem-macem lah…
Kebetulan saya dan teman lagi berdiri ngobrol didekat salah satu pedagang sandal. Terus teman bilang ”Sandal-sepatu ini harganya 10-ribuan, pak”. Memang sih ”stand” sandal & sepatu untuk cewek seharga 10-ribuan ini cukup rame. Rata-rata memang ibu-ibu yang pada nyamperin dan beli.
Kira-kira lewat jam 10 malam, si bapak tiba-tiba membereskan dagangannya. Padahal manusia dilapangan Ngara Lamo itu masih banyak ngumpul kayak cendol, dan terus berdatangan. Puncak keramaian di acara Legu Gam Expo sih biasanya jam 10 malam, dan selesai jam 12 malam (gila… begitu terus setiap malam, selama 2 mingguan, apa besok ga pada mo kerja ama sekolah tuh orang-orang??? ).
Iseng, setelah si bapak akan cabut, saya tanya ”Pak koq udahan?”. ”Iya ibu-ibunya dah pada sepi”,jawab si bapak polos. Meski jawabannya polos, tapi maknanya besar sekali, dan terus terang saya kaget. Ternyata si bapak sudah melakukan STP (Segmentasi –targeting – positioning) marketing! Tau terorinya apa nggak, tapi saya yakin si bapak penjual sandal ini nggak sadar melakukan itu.
Dia sadar, barang yang dijual adalah barang kelas lapak-lapak dengan harga maksimal 10-ribuan. Untuk kualitas, ya seperti pepatah Jawa Ono rupo ono rego (ada bentuk ada harga). Jangan tanya merk sandal yang dijual deh…
Yang dia lihat di lapangan di Legu Gam Expo, yang banyak datang adalah menengah bawah, sesuai dengan segmen sandalnya dia yang cuma seharga 10 ribuan. Targetnya dia adalah ibu-ibu. Kalo positioningnya dia mungkin menyediakan sandal & sepatu cewek murah meriah dengan banyak pilihan. (Saya yakin dia nggak akan bedah seperti ini deh…).
Karena sasaran dia adalah kelas menengah bawah, jadi ga bakalan diributin itu yang namanya differentiation, marketing mix, Selling, apalagi sampe ke Service, Process, dan Brand, jauuhhh ….Mang.
Pas mo pulang dia sempat komentar ”Yah dah cukup juga jualannya. Dah dapet 350 ribu”. (He.. he.. lumayan juga ni si bapak omzetnya!.) ”Semalam dapat berapa pak biasanya?” iseng saya tanya lagi. ”Yah antara 300 ribu ampe 450 ribu”, jawab si bapak yang dari logatnya pasti dari Jawa. ”Buka-nya mulai jam berapa?” tambah saya lagi. ”Dari abis maghrib”.”Mari pak, saya pulang dulu” kata si bapak sambil ngangkat barang jualannya, cabut pulang
Malam ini saya dapat pelajaran marketing yang sederhana tapi ngena banget.:
- Siapa yang tidak butuh marketing? Wong pedagang kelas lapak aja dah bisa jelas membidik segmen dan targetnya koq.
- Konsisten dengan segmen & target yang disasar. Disaat target pasarnya dah sepi, dia tarik diri.
- Tingkatan bisnis menentukan sejauh mana ilmu marketing bakal di pake. Karena yang dijual cuma sandal & sepatu kelas lapak, dia nggak peduli sama yang namanya packaging, promosi, process, service dan segala tetek bengek yang lain, apalagi ngurusi brand. Yang dia tahu sepatunya ada brand-nya (merk) tapi jauh dari branded. Jadi cukup di segmen dan target aja.
- Punya target yang mo dicapai.
”Makasih banyak ya pak… !” seru saya dalam hati.
Ternate, 30 April 2009



Hhhmmm…. Ini yang pertama kali saya lihat, tutup bagasi di atas kepala sepanjang kursi penumpang yang masih polos, membuat gatal bertanya dalam hati, “Bisa nggak ya kalo tutup bagasi di atas kepala itu di pasang branding/promo produk tertentu”? Kan seru tuh… misal yang ditempel di sana misalnya produk minuman atau rokok malah. Dalam 1 jam orang dipaksa melihat brand produk tersebut terus menerus, lumayan untuk meningkatkan brand awareness.